RSS

MENGENAL DIRI SENDIRI..

cermin1

“Barangsiapa yang mengenal dirinya akan lebih sibuk membenahi dirinya sendiri daripada mencari kesalahan orang lain..”
^^ Ibnul Qayim Al Jauziyah

Hari ini saya kembali belajar tentang diri saya sendiri, ada sebuah dinding yang tinggi, tembok yang besar, dan topeng yang tebal yang melindungi saya dari dunia luar. Semua itu adalah kemurahan hati sang Pencipta. Dimana setiap aib yang semua manusia pasti membencinya, ditutup rapat-rapat oleh rimbunnya bunga-bunga yang cantik.

Kadang, hal yang paling takut saya temui adalah diri saya sendiri. Banyak hal dalam diri saya yang ingin saya hindari, saya jauhi. Berusaha menjauh dan berlari, menyembunyikan diri. Sama sekali tidak mungkin karena itu ada di dalam diri saya sendiri, kemana pun saya pergi, itu adalah saya sendiri.

Pada akhirnya saya harus tunduk pada sebuah kenyataan. Fakta bahwa itu adalah diri saya, harus saya terima, dan maafkan. Meski proses memaafkan diri sendiri itu pada kenyataannya jauh lebih sulit daripada memaafkan orang lain. Karena orang lain bisa saja pergi dan menjauh, sementara kesalahan diri sendiri tetap ada di dalam diri saya, setiap hari saya temui.

Saya sempat menggugat, menggapa saya harus memiliki cerita hidup yang seperti demikian? mengapa saya yang harus mengalami? Apa maksudnya? Tidak bisakah saya kembali ke masa itu mengubah semuanya?

Pertanyaan-pertanyaan itu menghantui saya di setiap kali sujud. Apakah saya pantas meminta surga. Sebuah hal yang paling saya khawatirkan, apakah Tuhan memaafkan kesalahan itu. Bagaimana caranya saya tahu bila Dia sudah memaafkan?

Orang lain bisa memandang diri ini setinggi langit meski sejatinya diri ini lebih pantas berada di dasar laut dalam. Pada akhirnya, ada satu titik dimana manusia seperti saya harus belajar dan berani mengenalkan diri untuk mengenalkan diri secara utuh. Mungkin tidak kepada semua orang, hanya kepada orang-orang tertentu. Dan itu tetaplah sebuah hal berat.

Mengenalkan diri secara utuh. Mengenalkan diri secara paripurna, hingga tak satupun tertinggal untuk diberitakan. Perihal orang tersebut kemudian pergi, itu adalah sebuah konsekuensi. Beruntunglah bila orang tersebut bisa menerima kita. Sebuah hal yang mungkin tidak pernah dibayangkan oleh manusia seperti saya bahwa akan ada orang yang menerima saya sedemikian rupa.

Hidup ini sejatinya hanya perlu Allah, apapun yang didekatkan kepada kita adalah sarana kita untuk mendekatkan diri kepada Allah. Termasuk pasangan kita, orang tua kita, anak-anak kita, teman-teman kita, harta kita, dan apapun yang memenuhi hidup kita.

dari tulisan saudara kami ;
Mas Kurniawan..

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 28, 2014 in Pendidikan

 

Pendidikan Keluarga

1920625_769270486428585_315252058912289600_n

Hasil Ujian Nasional baru saja diumumkan. Ada yang gembira karena lulus, ada juga yang bersedih karena gagal lulus. Padahal oleh masyarakat, lulus atau tidaknya siswa dalam ujian, sering dianggap sebagai “faktor terpenting yang menentukan masa depan”. Mereka yang tidak lulus sering dianggap masa depannya suram. Sehingga akhir-akhir ini kita sering mendengar siswa yang tidak lulus ujian merasa frustasi, histeris, hingga ada yang bunuh diri. Suatu tindakan berlebihan yang mencerminkan sudah tidak adanya lagi yang diharapkan dari hidup ini.

***

 Pembaca yang dirahmati Allah…

Kebutuhan manusia akan ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang mutlak. Dahulu, sebelum adanya lembaga-lembaga pendidikan formal seperti sekolah, anak-anak dididik oleh orang tua masing-masing. Pada perkembangannya, pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan kesibukan orang tua menyebabkan mereka tidak mampu lagi mengajar. Orang tua lalu menitipkan anaknya pada seseorang atau lembaga yang dianggap pandai. Lembaga pendidikan inilah yang lalu diistilahkan dengan “almamater”  yang berarti ibu yang memberikan ilmu, yang saat ini menjelma menjadi sekolah.

 Konsep pendidikan pada masyarakat modern lambat laun menjadi bergeser. Pendidikan yang tadinya bertumpu pada keluarga, sekarang menjadi bertumpu pada sekolah. Bukan hanya transfer ilmu, sekolah juga dijadikan sebagai tumpuan utama dalam pendidikan karakter, akhlaq, dan spiritual. Dengan alasan sudah dibayar, sekolah menjadi pihak yang paling sering disalahkan bila terjadi permasalahan dalam proses belajar sang anak.

10247369_762221190466848_1252992055_n

Padahal rata-rata porsi pendidikan agama yang ada di sekolah umum sekarang amat sedikit. Tidak mungkin siswa mengenal Tuhannya, mengenal Nabinya, dan mengenal agamanya, jika pelajaran agama hanya sekitar 2 jam tiap pekan. Disinilah fungsi pendidikan keluarga menjadi sangat penting. Anak bisa membaca Al Quran bukan karena dia sekolah, tapi karena keluarganya yang mengajarinya. Keluarganyalah yang berperan mengajaknya ke masjid untuk sholat berjamaah. Keluarga jugalah yang membangunkan dia untuk bangun sahur untuk latihan berpuasa sejak dini. Sehingga, agama tidak hanya menjadi teori hapalan semata, namun diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, dicontohkan dalam kehidupan keluarga.

Masalah tidak hanya pada sedikitnya pendidikan agama, namun padatnya jadwal sekolah ditambah kegiatan ekstrakurikuler atau ikut bimbingan belajar, juga membuat mayoritas kehidupan anak menjadi di luar rumah. Dia jadi kurang mengenal lingkungan sekitar rumahnya. Jangan heran jika anak sekarang tidak hapal nama tetangga atau nama Ketua RTnya sendiri. Beberapa orang tua mengeluh, “Anak saya jarang membantu pekerjaan rumah, padahal saya repot mencuci, memasak, dan membersihkan rumah. Sementara dia kelihatan sibuk sekali dengan HP dan komputernya. Saya jadi enggan menegurnya”. Keluhan ini menunjukkan bagaimana kesibukan anak di luar keluarga, sampai menghilangkan kepekaan terhadap lingkungan keluarganya sendiri. Dia tidak merasa sungkan lagi ketika orang yang berada di dekatnya kesusahan. Rasa bakti terhadap orang tua dan keluarga lama-lama menjadi pudar. Allah l berfirman,

“Dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu” [QS. An Nisaa’ : 36]

Namun bukan berarti bahwa sekolah itu buruk. Hanya saja, pendidikan dalam keluarga tetaplah yang paling utama. Sekolah hanya mengajari teori-teori seperti matematika, bahasa, dan sains, tidak mengajarkan bagaimana menyelesaikan persoalan dalam kehidupan. Sehingga jangan heran jika sekarang banyak siswa yang memperoleh nilai tinggi dalam pelajaran fisika namun tidak mengerti bagaimana membetulkan genteng yang bocor, atau siswi yang cerdas dalam biologi tapi tidak bisa memasak.

Pembaca yang dirahmati Allah…

Pendidikan keluarga haruslah mampu menanamkan kecintaan anak terhadap ilmu. Sehingga, dalam proses belajar, ia tidak merasa terpaksa. Ia belajar karena ia menyukainya. Kegagalan dalam proses belajar bukanlah sesuatu yang memalukan, selama ia belajar sungguh-sungguh. Mencontek merupakan salah satu perbuatan buruk yang timbul karena anak tidak menghargai ilmu. Apabila belajar dipahami sebagai proses mencari ilmu bukan hanya mencari nilai, maka perbuatan mencontek tidak akan terjadi. Dan tindakan bunuh diri akibat kegagalan dalam Ujian Akhir, juga tidak akan terjadi. Karena anak tahu, bahwa dia tidak lulus karena memang belum paham dengan ilmunya, sehingga ini justru memacunya untuk kembali belajar.

Pendidikan keluarga juga harus mampu mengembangkan jiwa sosialnya. Melalui keteladanan orang tua, anak diajari tentang akhlaq yang baik. Dia belajar untuk perhatian dengan lingkungan sekitarnya, terbiasa tegur sapa dengan tetangganya. Juga ajarkan anak untuk ikut aktif dalam mengurusi pekerjaan rumah tangga, menyelesaikan permasalahan yang timbul di sekitar rumah. Karena hal-hal kecil dalam mengurusi pekerjaan rumah tangga inilah yang sejatinya diperlukan dalam kehidupan sehari-hari dia kelak. Ini juga akan melatih mentalnya, sehingga ia akan memiliki daya juang, tidak malas dan kendur dalam menghadapi problema hidup di kemudian hari.

Dan yang paling penting, bahwa pendidikan keluarga haruslah berbasis agama yang mampu mendekatkan anak dengan Allah l.  Keluarga harus berupaya agar tiap anggota keluarganya, terutama anak melaksanakan perintah Allah l. Pendidikan agama sedari kecil, mulai dari membaca Qur’an, menghapal doa-doa harian, belajar cara wudhu dan sholat, akan menanamkan benih-benih tauhid.  Sehingga ia tahu untuk apa ia diciptakan. Ia tahu apa yang harus dia lakukan. Dan ia tahu, kepada siapa dia meniatkan aktifitasnya sehari-hari. Allah l berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” [QS. At Tahrim : 6]

Semoga Allah l menjadikan anak-anak kita sebagai generasi yang sholih dan sholihah, yang berbakti kepada orang tuanya.

 Wallahu alam bish showwab (Ristyandani)

Majalah Tasfiyah edisi 4

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 4, 2014 in Pendidikan

 

MEREKA YANG “TERTIPU” DENGAN DUNIA

Fitnah DuniaAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًا وَفِي اْلآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

“Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang karenanya tumbuh tanam-tanaman yang membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lantas menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al-Hadid: 20)

Bacalah berulang kalam dari Rabb yang mulia di atas berikut maknanya… Setelahnya, apa yang kamu pahami dari kehidupan dunia? Masihkah dunia membuaimu? Masihkah angan-anganmu melambung tuk meraih gemerlapnya? Masihkah engkau tertipu dengan kesenangannya?

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu dalam Tafsir-nya, “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang hakikat dunia dan apa yang ada di atasnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala terangkan akhir kesudahannya dan kesudahan penduduknya. Dunia adalah permainan dan sesuatu yang melalaikan. Mempermainkan tubuh dan melalaikan hati. Bukti akan hal ini didapatkan dan terjadi pada anak-anak dunia1. Engkau dapati mereka menghabiskan waktu-waktu dalam umur mereka dengan sesuatu yang melalaikan hati dan melengahkan dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun janji (pahala dan surga, –pent.) dan ancaman (adzab dan neraka, –pent.) yang ada di hadapan, engkau lihat mereka telah menjadikan agama mereka sebagai permainan dan gurauan belaka. Berbeda halnya dengan orang yang sadar dan orang-orang yang beramal untuk akhirat. Hati mereka penuh disemarakkan dengan dzikrullah, mengenali dan mencintai-Nya. Mereka sibukkan waktu-waktu mereka dengan melakukan amalan yang dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah daripada membuangnya untuk sesuatu yang manfaatnya sedikit.”

Asy-Syaikh rahimahullahu melanjutkan, “Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan permisalan bagi dunia dengan hujan yang turun di atas bumi. Suburlah karenanya tumbuh-tumbuhan yang dimakan oleh manusia dan hewan. Hingga ketika bumi telah memakai perhiasan dan keindahannya, dan para penanamnya, yang cita-cita dan pandangan mereka hanya sebatas dunia, pun terkagum-kagum karenanya. Datanglah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akhirnya tanaman itu layu, menguning, kering dan hancur. Bumi kembali kepada keadaannya semula, seakan-akan belum pernah ada tetumbuhan yang hijau di atasnya. Demikianlah dunia. Tatkala pemiliknya bermegah-megahan dengannya, apa saja yang ia inginkan dari tuntutan dunia dapat ia peroleh. Apa saja perkara dunia yang ia tuju, ia dapatkan pintu-pintunya terbuka. Namun tiba-tiba ketetapan takdir menimpanya berupa hilangnya dunianya dari tangannya. Hilangnya kekuasaannya… Jadilah ia meninggalkan dunia dengan tangan kosong, tidak ada bekal yang dibawanya kecuali kain kafan….” (Taisir Al-Karimirir Rahman, hal. 841)

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkisah, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati pasar sementara orang-orang ada di sekitar beliau. Beliau melintasi bangkai seekor anak kambing yang kecil atau terputus telinganya (cacat). Beliau memegang telinga bangkai tersebut seraya berkata:

أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟ فَقَالُوا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: أَتُحِبُّوْنَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ قَالُوا: وَاللهِ، لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيْهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ

“Siapa di antara kalian yang suka memiliki anak kambing ini dengan membayar seharga satu dirham?” Mereka menjawab, “Kami tidak ingin memilikinya dengan harga semurah apapun. Apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, “Apakah kalian suka bangkai anak kambing ini menjadi milik kalian?” “Demi Allah, seandainya pun anak kambing ini masih hidup, tetaplah ada cacat, kecil/terputus telinganya. Apatah lagi ia telah menjadi seonggok bangkai,” jawab mereka. Beliau pun bersabda setelahnya, “Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada hinanya bangkai ini bagi kalian.” (HR. Muslim no.7344)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda:

لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

“Seandainya dunia punya nilai di sisi Allah walau hanya menyamai nilai sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir seteguk airpun.” (HR. At-Tirmidzi no. 2320, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 686)

Tatkala orang-orang yang utama, mulia lagi berakal mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghinakan dunia, mereka pun enggan untuk tenggelam dalam kesenangannya. Apatah lagi mereka mengetahui bahwa Nabi mereka Shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup di dunia penuh kezuhudan dan memperingatkan para shahabatnya dari fitnah dunia. Mereka pun mengambil dunia sekedarnya dan mengeluarkannya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebanyak-banyaknya. Mereka ambil sekedar yang mencukupi dan mereka tinggalkan yang melalaikan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, sambil memegang pundak iparnya ini:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (HR. Al-Bukhari no. 6416)

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma pun memegang teguh wasiat Nabinya baik dalam ucapan maupun perbuatan. Dalam ucapannya beliau berkata setelah menyampaikan hadits Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, “Bila engkau berada di sore hati maka janganlah engkau menanti datangnya pagi. Sebaliknya bila engkau berada di pagi hari, janganlah menanti sore. Gunakanlah waktu sehatmu (untuk beramal ketaatan) sebelum datang sakitmu. Dan gunakan hidupmu (untuk beramal shalih) sebelum kematian menjemputmu.”

Adapun dalam perbuatan, beliau radhiyallahu ‘anhuma merupakan shahabat yang terkenal dengan kezuhudan dan sifat qana’ahnya (merasa cukup walau dengan yang sedikit) terhadap dunia. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Pemuda Quraisy yang paling dapat menahan dirinya dari dunia adalah Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.” (Siyar A’lamin Nubala`, hal. 3/211)

Ibnu Baththal rahimahullahu menjelaskan berkenaan dengan hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma di atas, “Dalam hadits ini terdapat isyarat untuk mengutamakan sifat zuhud dalam kehidupan dunia dan mengambil perbekalan secukupnya. Sebagaimana musafir tidak membutuhkan bekal lebih dari apa yang dapat mengantarkannya sampai ke tujuan, demikian pula seorang mukmin di dunia ini, ia tidak butuh lebih dari apa yang dapat menyampaikannya ke tempat akhirnya.” (Fathul Bari, 11/282)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata memberikan penjelasan terhadap hadits ini, “Janganlah engkau condong kepada dunia. Jangan engkau jadikan dunia sebagai tanah air (tempat menetap), dan jangan pula pernah terbetik di jiwamu untuk hidup kekal di dalamnya. Jangan engkau terpaut kepada dunia kecuali sekadar terkaitnya seorang asing pada selain tanah airnya, di mana ia ingin segera meninggalkan negeri asing tersebut guna kembali kepada keluarganya.” (Syarhu Al-Arba’in An-Nawawiyyah fil Ahadits Ash-Shahihah An-Nabawiyyah, hal. 105)

Suatu ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur di atas selembar tikar. Ketika bangkit dari tidurnya tikar tersebut meninggalkan bekas pada tubuh beliau. Berkatalah para shahabat yang menyaksikan hal itu, “Wahai Rasulullah, seandainya boleh kami siapkan untukmu kasur yang empuk!” Beliau menjawab:

مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain kecuali seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon, lalu beristirahat, kemudian meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2377, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi)

Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah menangis melihat kesahajaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai beliau hanya tidur di atas selembar tikar tanpa dialasi apapun. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:

فَرَأَيْتُ أَثَرَ الْحَصِيْرِ فِي جَنْبِهِ فَبَكَيْتُ. فَقَالَ: مَا يُبْكِيْكَ؟ فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ كِسْرَى وَقَيْصَرَ فِيْمَا هُمَا فِيْهِ وَأَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ. فَقَالَ: أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُوْنَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا اْلآخِرَةُ؟

Aku melihat bekas tikar di lambung/rusuk beliau, maka aku pun menangis, hingga mengundang tanya beliau, “Apa yang membuatmu menangis?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, sungguh Kisra (raja Persia, –pent.) dan Kaisar (raja Romawi –pent.) berada dalam kemegahannya, sementara engkau adalah utusan Allah2.” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau ridha mereka mendapatkan dunia sedangkan kita mendapatkan akhirat?” (HR. Al-Bukhari no. 4913 dan Muslim no. 3676)

Dalam kesempatan yang sama, Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Nabinya:

ادْعُ اللهَ فَلْيُوَسِّعْ عَلَى أُمَّتِكَ فَإِنَّ فَارِسَ وَالرُّوْمَ وُسِّعَ عَلَيْهِمْ وَأُعْطُوا الدُّنْيَا وَهُمْ لاَ يَعْبُدُوْنَ اللهَ. وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ: أَوَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، أُولَئِكَ قَوْمٌ عُجِّلَتْ لَهُمْ طَيِّبَاتُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Mohon engkau wahai Rasulullah berdoa kepada Allah agar Allah memberikan kelapangan hidup bagi umatmu. Sungguh Allah telah melapangkan (memberi kemegahan) kepada Persia dan Romawi, padahal mereka tidak beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Rasulullah meluruskan duduknya, kemudian berkata, “Apakah engkau dalam keraguan, wahai putra Al-Khaththab? Mereka itu adalah orang-orang yang disegerakan kesenangan (kenikmatan hidup/rezeki yang baik-baik) mereka di dalam kehidupan dunia3?” (HR. Al-Bukhari no. 5191 dan Muslim no. 3679)

Demikianlah nilai dunia, wahai saudariku. Dan tergambar bagimu bagaimana orang-orang yang bertakwa lagi cendikia itu mengarungi dunia mereka. Mereka enggan untuk tenggelam di dalamnya, karena dunia hanyalah tempat penyeberangan… Di ujung sana menanti negeri keabadian yang keutamaannya tiada terbandingi dengan dunia.

Al-Mustaurid bin Syaddad radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا الدُّنْيَا فِي اْلآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ

“Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan. Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat?” (HR. Muslim no. 7126)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menerangkan, “Makna hadits di atas adalah pendeknya masa dunia dan fananya kelezatannya bila dibandingkan dengan kelanggengan akhirat berikut kelezatan dan kenikmatannya, tidak lain kecuali seperti air yang menempel di jari bila dibandingkan dengan air yang masih tersisa di lautan.” (Al-Minhaj, 17/190)

Lihatlah demikian kecilnya perbendaharaan dunia bila dibandingkan dengan akhirat. Maka siapa lagi yang tertipu oleh dunia selain orang yang pandir, karena dunia takkan dapat menipu orang yang cerdas dan berakal. (Bahjatun Nazhirin, 1/531)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Mereka yang tertipu dengan dunia.

2 Dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim (no. 3675) disebutkan ucapan Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu:

فَابْتَدَرَتْ عَيْنَايَ. قَالَ: مَا يُبْكِيْكَ، يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟ قُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ وَمَا لِي لاَ أَبْكِي وَهَذَا الْحَصِيْرُ قَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِكَ وَهَذِهِ خِزَانَتُكَ لاَ أَرَى فِيْهَا إِلاَّ مَا أَرَى، وَذَاكَ قَيْصَرُ وَكِسْرَى فِي الثِّمَارِ وَاْلأَنْهَارِ وَأَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ وَصَفْوَتُهُ وَهَذِهِ خِزَانَتُكَ

“Maka bercucuranlah air mataku.” Melihat hal itu beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis, wahai putra Al-Khaththab?” Aku menjawab, “Wahai Nabiyullah, bagaimana aku tidak menangis, aku menyaksikan tikar ini membekas pada rusukmu. Aku melihat lemarimu tidak ada isinya kecuali sekedar yang aku lihat. Sementara Kaisar dan Kisra dalam limpahan kemewahan dengan buah-buahan dan sungai-sungai yang mengalir. Padahal engkau (jauh lebih mulia daripada mereka, –pent.) adalah utusan Allah dan manusia pilihan-Nya, dalam keadaan lemarimu hanya begini.”

3 Adapun di akhirat kelak, mereka tidak mendapatkan apa-apa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِيْنَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُوْنِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُوْنَ فِي اْلأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُوْنَ

“Dan ingatlah hari ketika orang-orang kafir dihadapkan ke neraka, kepada mereka dikatakan, ‘Kalian telah menghabiskan kesenangan hidup (rezeki yang baik-baik) kalian dalam kehidupan duniawi saja dan kalian telah bersenang-senang dengannya. Maka pada hari ini kalian dibalas dengan adzab yang menghinakan karena kalian telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa haq dan karena kalian berbuat kefasikan’.” (Al-Ahqaf: 20)

Judul Asli : Jangan Terpikat Dengan Dunia

Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

Silahkan mengcopy dan memperbanyak artikel ini

dengan mencantumkan sumbernya yaitu : www.asysyariah.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 2, 2014 in Pendidikan

 

AYAT-AYAT SETAN DAN SALMAN RUSHDIE

Prieres-TheSatanicVerses

Oleh : Rimbun Natamarga
Menarik juga, majalah Tashfiyah pernah mencoba mengangkat beberapa kasus pelecehan terhadap Rasulullah. Di antara yang diambil contoh adalah novel Ayat-Ayat Setan karya Salman Rushdie.

Ayat-Ayat Setan yang aslinya berjudul The Satanic Verses adalah novel keempat Salman Rushdie, seorang penulis Inggris yang lahir di India. Novel itu terbit pertama kali pada 1988.

Tidak lama, Ayat-Ayat Setan segera mengundang banyak perhatian. Para kritikus sastra di Kerajaan Inggris Raya segera menerima kehadiran novel Rushdie itu dengan baik. Penulisnya sendiri hampir mendapat penghargaan Booker Prize untuk tahun 1988.

Berbeda dengan umat Islam. Di India, novel itu segera dilarang beredar. Di Pakistan, pada 1989, meletus kerusuhan di tengah masyarakat.

Di Inggris sendiri, komunitas muslim setempat mengadakan demonstrasi memrotes kemunculan novel itu dan membakar bereksemplar-eksemplar di tengah demonstrasi tersebut. Salah seorang tokoh muslim Inggris yang paling liberal, Dr. Zaki Badawi, mengecam keras novel itu. Dalam kata-katanya, isi novel itu “bagi seorang muslim jauh lebih menjijikkan daripada jika ia memperkosa putrinya sendiri.”

Di Indonesia juga demikian. Ironisnya, di sejumlah kampus perguruan tinggi di Pulau Jawa, segelintir mahasiswa mencari dan menyimpan kopian buku aslinya untuk dibaca sendiri atau dibaca teman masing-masing.

Isi novel itu memang melukai kaum muslimin. Betapa tidak, Rushdie melukiskan Rasulullah sebagai seorang laki-laki pendusta yang mengaku-ngaku mendapat wahyu dari langit. Rushdie juga menghina Aisyah, sahabat-sahabat Rasulullah yang lain, bahkan Malaikat Jibril.

Dalam novel itu, Rasulullah direpresentasikan lewat sosok laki-laki yang bernama Mahound. Malaikat Jibril disebut sebagai “perantara” yang muncul dalam mimpi-mimpi dan penampakan-penampakan yang dilihat Mahound. Aisyah dilukiskan sebagai anak perempuan belia yang bernama Ayesha dan diperistri Mahound sebagai tanda kebolehan untuk berpoligami di tengah-tengah pengikutnya.

Dengan penghinaan yang ada di dalamnya, banyak negara muslim yang mencekal peredaran novel itu. Sayangnya, pencekalan itu bukan berarti pencekalan karya-karya Rushdie yang lainnya.

Terbukti, karya Rushdie yang berjudul Midnight’s Children diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia oleh Penerbit Serambi, Jakarta. Buku yang lain, Harun dan Samudra Dongeng, tidak hanya diterbitkan oleh Serambi, tetapi malah mendapatkan pujian dari sejumlah tokoh yang dimuat di majalah TEMPO. Demikian pula dengan karya Rushdie yang berjudul Luka dan Api Kehidupan yang diterbitkan (lagi-lagi) oleh Serambi pada 2011 lalu.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 28, 2014 in Pendidikan

 

Cobalah Saudaraku…

10300428_1429012080682103_3895602796335532509_nUntuk kalian , wahai saudaraku…

Wahai saudaraku..
Engkau bisa datang berjam-jam ke stadion tim sepakbolamu bertanding, engkau bisa tegak paling depan ketika band favoritmu tampil di festival music. Tapi mengapa tiap Jumat, enkau datang ketika khutbah Jumat hampir berakhir., duduk di barisan paling belakang, bersandar pada pintu keluar masjid dengan rasa enggan, kenapa engkau bereat melakukannya saudaraku?Cobalah saudaraku..Engkau hanya perlu mencobanya, engkau hanya perlu mencari saudaramu yang mengajak mu pada kebaikan…

Wahai saudaraku…
Engkau bisa menghafal banyak lirik rusak dari artis dan band favoritmu, dan bahkan berani tampil dalam pentas seni di sekolahmu. Namun mengapa susah sekali mengajakmu untuk membaca Al Quran, bahkan untuk mendatangi sholat jamaah pun engkau tidak mau, kenapa engkau berat melakukannya saudaraku?

Cobalah saudaraku..Engkau hanya perlu mencobanya, engkau hanya perlu mencari saudaramu yang mengajak mu pada kebaikan…

Wahai saudaraku…
Sehari engkau mudah mengeluarkan uang sepuluh ribu hanya untuk membeli sebungkus rokok yang jelas-jelas merusak kesehatanmu. Namun betapa beratnya engkau memberikan sedekah kepada orang yang membutuhkan, kenapa engkau berat melakukannya saudaraku?
Cobalah saudaraku..Engkau hanya perlu mencobanya, engkau hanya perlu mencari saudaramu yang mengajak mu pada kebaikan…

Wahai saudaraku…
Engkau berani berpacaran, bermesra-mesraan dengan wanita yang akhlaqnya rusak. Yang kau sendiri tidak yakin ia akan menjadi pasangan hidupmu kelak. Tapi saudaraku, engkau takut dan ragu untuk menikah dengan wanita baik-baik, yang menutup auratnya dengan benar, yang hanya berani menatapmu dengan menundukkan pandangannyaselain padamu, yang membenci laki-laki yang menatapnya dan membenci bercampur baur dengan lelaki lain. Kenapa engkau takut melakukannya saudaraku, kenapa engkau bereat melakukannya?
Cobalah saudaraku..Engkau hanya perlu mencobanya, engkau hanya perlu mencari saudaramu yang mengajak mu pada kebaikan…

——————————————————————————————————————————————————————————————————–

598401_224394337693564_670615422_nUntuk kalian wahai saudariku…

Wahai saudariku…
Engkau mengatakan,”Aku tidak bisa mengenakan jilbab, malu dilihat orang”. Namun saudariku, engkau bangga keluar dari rumahmu dengan pakaian ketat yang menampakkan auratmu. Engkau tidak merasa malu ditatap oleh lelaki lain. Kenapa engkau berat mengenakan hijab saudariku?
Cobalah saudaraku..Engkau hanya perlu mencobanya, engkau hanya perlu mencari saudaramu yang mengajak mu pada kebaikan

Wahai saudariku…
Engkau sering melakukan ghibah, bergosip, membicarakan keburukan orang lain selama berjam-jam tanpa meerasas lelah. Tpi kenapa berat sekali mengajakmu datang ke pengajian. Ketika engkau datang kesana bersama saudarimu yang berakhlaq baik dan menutup auratnya, engkau malah diam seribu bahasa. Kenapa engkau tidak berbincang dengan mereka? Padahal mereka akan mengajakmu berbicara kebaiakn. Kenapa engkau berat melakukannya saudariku?
Cobalah saudaraku..Engkau hanya perlu mencobanya, engkau hanya perlu mencari saudaramu yang mengajak mu pada kebaikan

Wahai saudariku…
Berjam-jam engkau di depan layar laptopmu, sibuk meng-update status facebook-mu, bahkan memasang foto-foto yang menampakkan auratmu. Engkau berkomunikasi dengan orang yang bahkan kau sendiri tidak tahu bagaimana dia sesungguhnya. Tapi kenapa dengan waktu sebanyak itu, engkau berat untuk membantu ibumu memasak dan mengerjakan urusan rumah tangga, mengapa berat untuk mengobrol dengannya berat untuk belajar bagaimana menjadi seorang ibu? Kenapa engkau berat melakukannya saudariku

Wahai saudariku…
Masakan lezat yang kau makan, minuman segar yang kau rasakan, oksigen gratis yag kau hirup, penenglihatan, pendengaran, dan suara yang engkau dapatkan, semua itu kau dapatkan dari Allah. Tapi kenapa engkau tidak bersyukur dengan menutup auratmu sebagaimana yang Allah perintahkan? Tapi jika ada artis yang tampil dalam film dan video klip merek, mengenakan pakain mereka yang minim, kenapa tanpa berpikir panjang kau menirunya?siapa sebenarnya pencipta dan sesembahanmu?
Cobalah saudaraku..Engkau hanya perlu mencobanya, engkau hanya perlu mencari saudaramu yang mengajak mu pada kebaikan

“Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Dan minta tolonglah kepada Allah dan janganlah lemah.” (HR Muslim)

Majalah Tasfiyah edisi 1

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 25, 2014 in Pendidikan

 

Silsilah (Rangkaian) Nasehat dan Bimbingan dalam Pendidikan Anak

1471926_467050620070995_1388573918_n

« سلسلة نصائح وتوجيهات في تربية الأولاد »

>>>>>>>>>لأحمد مبارك بن قذلان المزروعي<<<<<<<<<<

« Silsilah (Rangkaian) Nasehat dan Bimbingan dalam Tarbiyatul Aulad »

= Oleh asy-Syaikh Ahmad Mubarak bin Qadzlan al-Mazru’i =

1- اعلم أن الحمل ثقيل فاستعن بالله على تربية أولادك فهو خير معين.

1. Ketahuilah, bahwa hamil itu berat. Maka mintalah pertolongan kepada Allah untuk mentarbiyah putra-putrimu. Sesungguhnya Dia sebaik-baik penolong.

2-دعاء الوالدين مستجاب فعليك بالدعاء لأولادك بالخير والصلاح، وإياك والدعاء عليهم .

2. Doa kedua orang tua mustajab. Maka hendaknya engkau doakan putra-putrimu dengan kebaikan dan keshalihan.

3-احرص على اختيار أحسن الأسماء لأولادك فكم للاسم من أثر على البنت والابن.

3. Bersemangatlah untuk memilih nama yang terbaik untuk putra-putrimu. Berapa banyak nama itu berpengaruh terhadap anak, baik putra maupun putri.

4- بادر بتكنية أولادك بالكنى الطيبة قبل أن تلحقه الألقاب السيئة.

4. Bersegeralah untuk memberi kunyah kepada putra putrimu dengan kunyah yang baik, sebelum dia diberi gelar-gelar yang jelek.

5- احرص على غرس الإيمان والتوحيد في قلوب أولادك فهي الكلمة الطيبة والشجرة الثابتة المثمرة.

5. Seriuslah untuk menanamkan iman dan tauhid di hati putra-putrimu. Itu adalah kalimat thayyibah, pohon yang tertanam kuat dan berbuah lebat.

6- لقن أولادك كلمة التوحيد وعرفهم معناها فإنها الأساس الذي يقوم عليه البنيان.

6. Talqinkan (ajarkan secara lisan) kepada putra-putrimu kalimat Tauhid, dan perkenalkanlah kepada mereka makna kalimat tersebut. Sesungguhnya kalimat Tauhid merupakan pondasi yang ditegakkan di atasnya bangunan.

7-اشعر ولدك مراقبة الله وعلمه أسماء الله وصفاته؛ فكم لها من أثر عظيم في صلاح الأولاد.

7. Ajarkanlah kepada putramu perasaan muraqabatullah (senantiasa merasa diawasi oleh Allah). Ajarkanlah kepadanya Nama-Nama Allah dan Shifat-Shifat-Nya. Berapa banyak itu (Nama-Nama dan Shifat-Shifat-Nya) memiliki pengaruh yang besar untuk keshalihan putra-putri.

8-احرص على غرس الإيمان بالرسل في أولادك, وعلمهم سيرهم وما كانوا عليه من خير وصلاح ودعوة وإصلاح.

8. Berseriuslah untuk menanam kan kepada putra-putrimu keimanan kepada para rasul. Ajarkanlah kepada mereka sirah (sejarah perjalanan hidup) para rasul dan segala yang ada pada mereka berupa kebaikan, keshalihan, dakwah, dan perbaikan.

9- ازرع في قلب أولادك حب نبينا صلى الله عليه وسلم وعلمهم سيرته وأمرهم باتباعه فبمتابعته كل الخير والهدى.

9. Tanamkanlah pada hati putra-putrimu kecintaan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ajarkanlah kepada mereka sirah (sejarah perjalanan hidup) Rasulullah, perintahkan mereka untuk berittiba (mengikuti) beliau. Dengan berittiba’ kepada beliau, terwujud segala kebaikan dan hidayah.

10- اغرس في قلب أولادك محبة الصحابة وأوقفهم على سيرهم وماقاموا به من نصرة الدين وعظيم العلم والعمل.

10. Tanamkanlah dalam hati putra-putrimu kecintaan kepada para shahabat. Ajarkanlah kepada mereka sirah para shahabat, dan segala perjuangan yang mereka tegakkan, berupa pembelaan terhadap agama, dan agungnya ilmu dan amal.

11-لا تنس أن تغرس في قلب أولادك السمع والطاعة لولاة أمر المسلمين بالمعروف وحفظ مكانتهم وقدرهم.

11. Jangan lupa untuk menanamkan dalam hati putra-putrimu prinsip mendengar dan taat kepada pemerintah muslimin dan menjaga kedudukan dan kehormatan pemerintah tersebut.

12-ولا تنسى أن تحذر أولادك من الطعن في ولاة الأمر وعلماء المسلمين حتى لا يخسروا الدين والدنيا.

12. Jangan lupa memperingatkan putra-putrimu dari perbuatan mencela pemerintah dan ‘ulama muslimin, agar mereka tidak rugi agama dan dunianya.

13-حث أولادك على لزوم الجماعة تحت ظل ولاة أمرهم وقل لهم في الاجتماع الرحمة وفي الافتراق العذاب.

13. Doronglah putra-putrimu untuk berpegang kepada al-Jama’ah di bawah kekuasaan pemerintahnya. Katakan kepada mereka, bahwa pada persatuan itu terdapat rahmat, sementara pada perpecahan terdapat adzab.

14-الصلاة الصلاة آمراً لهم في السبع وضارباً لهم على العشر وإلا كنت تتحمل تهاونهم وتضييعهم لها.

14. Shalat, shalat. Perintahkan putra-putrimu mengerjakan shalat sejak usia 7 tahun, dan pukullah mereka pada usia 10 tahun (jika mereka tidak mau mengerjakannya. Jika tidak maka kamu (orang tua) menanggung dosa putra-putrimu yang meremehkan dan menyia-nyiakan shalat.

15-حذر أولادك من الجدال والخصومات؛ لأنها تفتح عليهم باب الشر والضيق والتفرق.

15. Peringatkan putra-putrimu dari berdebat dan berbantah-bantahan. Karena itu membuka pintu kejelekan, kesempitan, dan perpecahan pada mereka.

16- اغرس في قلب أولادك شكر النعمة والنظر إلى من هو دونهم حتى لا يحتقروا نعمة الله عليهم.

16. Tanamkan dalam hati putra-putrimu syukur nikmat, dan melihat kepada orang-orang yang kondisinya berada di bawahnya (dalam urusan dunia, pen), agar mereka tidak meremehkan nikmat Allah kepada mereka.

17-اعتني بتحفيظهم القرآن وفهمهم معانيه وأمرهم بالعمل بما فيه, وقل لهم هذاكلام الله فلاتخالفه فتهلك.

17. engkau harus memiliki perhatian besar agar putra-putrimu mau menghafal al-Qur`an dan memahami makna-maknanya. Perintahkanlah mereka untuk mengamalkan kandungan al-Qur`an, katakan kepada mereka bahwa ini (al-Qur`an) adalah Kalamullah maka janganlah kamu menyelisihi/menentangnya, karena itu akan membuatmu binasa.

18-علم أولادك مكارم الأخلاق وحسن الجوار والابتسامة في وجه الفقراء والمساكين وحذره من العبوس والتكبر.

18. Ajarkanlah pada putra-putrimu akhlak yang mulia, sebagai tetangga yang baik, dan senantiasa tersenyum di hadapan orang-orang fakir dan miskin. Peringatkanlah mereka (putra-putrimu) dari bermuka masam dan takabbur.

19- قل لولدك لا فرق بين عربي ولا أعجمي إلا بالتقوى فلا تحتقر من هو أضعف منك مكانة وأقل منك مالاً.

19. Katakan kepada putra-putrimu, bahwa tidak ada perbedaan antara orang arab dengan orang ‘ajam (non arab) kecuali dengan Taqwa. Maka janganlah kamu merendahkan orang yang lebih lemah kedudukannya atau lebih sedikit hartanya daripada kamu.

20- جنب أولادك مجالس اللغو والغناء واللغط فكم لها من آثار وأسقام على القلب قد تكون سببا لفساده.

20. Jauhkanlah putra-putrimu dari majelis-majelis (kumpulan-kumpulan) yang sia-sia, nyanyian, dan ribut-ribut. Betapa besar pengaruh dan penyakitnya terhadap hati, dan sangat banyak itu menjadi sebab kerusakan hati.

21-إياك وترك أولادك أما التلفاز فكم جمع من الفتن والشرور والشهوات والشبهات

فينشأ عليها

21. awas, jangan membiarkan putra-putrimu di depan televisi. Betapa banyaknya televisi itu memberikan berbagai fitnah, kejelekan, syahwat dan syubhat. Maka sangat dikhawatirkan putra-putrimu tumbuh dengan berbagai hal tersebut.

22-علم أبناءك الرجولة وجنبهم مخالطة الإناث حتى لا ينشؤوا على الميوعة والأنوثة.

22. Ajarkan kepada putra-putramu sifat rujulah (kelaki-lakian), jauhkan mereka dari bercampur dengan perempuan. Sehingga mereka tidak tumbuh dengan sifat-sifat lembek dan sifat-sifat perempuan.

23- علم بناتك الأنوثة والأمومة وجنبهم مخالطة الذكور حتى لا تخرج لك مسترجلة.

23. Ajarkan pada putri-putrimu sifat-sifat perempuan dan keibuan. Jauhkan mereka dari bercampur dengan laki-laki. Sehingga mereka tidak keluar dengan sifat-sifat laki-laki (tomboy).

24- كن لهم مراقباً ولا تترك الحبل على الغارب فإنهم إذا شعروا بالثقة العمياء قادتهم الأهواء واستغبى العقلاء.

24. Jadilah sebagai muraqib (pengawas) bagi mereka, janganlah mereka dibiarkan begitu saja. Apabila mereka dipercaya begitu saja (tanpa ada pengawasan) maka mereka akan dikendalikan oleh hawa nafsu.

25-لا تغلّب سوء الظن فتتهمهم بما لم يفعلوا وتحاسبهم بما لم يقترفوا, فيقعوا فيما أسأت فيهم الظن.

25. Jangan besar buruk sangka kepada putra-putrimu, sehingga engkau menuduh mereka berbuat sesuatu yang tidak mereka lakukan, membuat perhitungan terhadap sesuatu yang tidak mereka perbuat. Hal ini akan menyebabkan putra-putrimu benar-benar terjatuh pada sesuatu yang disangkakan terhadap mereka.

26- لا تختر لهم الصديق ! ولكن علمهم كيف يختارون الصديق من خلال دينه وعقله ووفائه.

26. Jangan kamu pilihkan untuk putra-putrimu teman! Namun ajarkanlah pada mereka bagaimana cara memilih teman, yaitu dengan meninjau agama, akal, dan amanahnya.

27-كن لهم قدوة ولا تسوغ لهم الهفوة بوقوعك في الزلة فإن العيون إليك ناظرة والأفعال عليك معقودة.

27. Jadilah engkau sebagai qudwah (teladan) bagi putra-putrimu. Janganlah kamu menjadikan untuk mereka adanya pembenaran/pembolehan kesalahan dengan terjatuhnya kamu dalam kekeliruan. Karena mata (mereka) akan senantiasa melihatmu,

dan tingkah laku (mereka) senantiasa terkait denganmu.

28-رتب لهم وقتهم ونظم لهم يومهم ولا تجعل أمرهم فرطاً فينشؤوا على الإهمال والضياع إذا كبروا.

28. Tertibkanlah waktu-waktu putra-putrimu, aturlah hari-hari mereka, jangan sampai urusan mereka sia-sia, sehingga mereka tumbuh di atas keterlantaran, dan sia-sia ketika mereka dewasa.

29- كن لهم صديقاً عندما يحتاجون للصداقة وكن لهم أباً عندما يحتاجون للأبوة.

29. Jadilah engkau (berposisi) sebagai teman bagi mereka tatkala mereka butuh terhadap teman, dan jadilah engkau sebagai ayah tatkala mereka butuh kepada ayah.

30- اخلوا بهم ساعة ليظهروا ما في صدورهم من هموم وضيق حتى لا يظهر عند من لا يحسن التوجيه والإرشاد.

30. Menyendirilah bersama mereka sesaat, agar mereka mau mencurahkan isi hatinya, berupa kegundahan dan kesempitan. Agar mereka tidak mencurahkan isi hatinya kepada orang yang tidak pantas memberikan nasehat dan bimbingan.

31-خذهم في نزهة أسبوعية تتألفهم وتتقرب إليهم وتعلمهم فيها العوائد الطيبة والآداب الشرعية.

31. Jadikanlah untuk mereka adanya waktu untuk berjalan-jalan dalam satu pekan. Pada kesempatan itu, engkau bisa mendekati dan menjalin keakraban dengan mereka. sekaligus engkau mengajari mereka dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan adab-adab syar’iyyah.

32-علمهم ما يحتاجون من سنن وأذكار يومية حتى يكونوا بربهم مرتبطين وبسنة نبيهم صلى الله عليه وسلم متمسكين.

32. Ajarkan kepada mereka sunnah-sunnah dan dzikir-dzikir harian yang mereka butuhkan. Sehingga mereka senantiasa terikat/terhubung dengan Rabb-nya, dan senantiasa berpegang teguh dengan Sunnah Nabi mereka Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

33- علمهم قبول النصيحة والتراجع عن الخطأ فكم في قبول النصيحة من الخير وكم في التراجع من فضيلة.

33. Ajarkan pada mereka sikap mau menerima nasehat dan sikap mau rujuk dari kesalahan. Betapa banyak kebaikan pada sikap mau menerima nasehat, dan betapa banyak keutamaan pada sikap rujuk dari kesalahan.

34-لا دلال ولا غلظة وإنما كن معهم بين الحب والهيبة.

34. Jangan lembek, jangan pula kasar (terhadap mereka). Namun bersikaplah kepada mereka antara sebagai orang yang dicintai dan sebagai orang yang berwibawa.

35-تابع أبناءك في المدارس والدراسة فإن المقصر يزيد والمحسن يثبت مع المتابعة.

35. Ikutilah perkembangan anak-anakmu dalam urusan sekolah dan belajar mereka. karena dengan diikuti/diamati perkembangannya, anak yang kurang bisa bertambah (kemampuan/semangatnya), sementara anak yang baik bisa semakin kokoh.

36-حث أبناءك على الجد والنشاط وجنبهم الراحلة والكسل والبطالة فما أبعد الخير عن أهل الكسل.

36. Doronglah putra-putramu untuk bersungguh-sungguh dan bersemangat. Jauhkanlah mereka dari suka bermain-main, malas, dan pengangguran. Betapa jauhnya kebaikan itu dari orang pemalas.

37- وقت الفراغ يضيع الأولاد فلا تجعل وقته فارغاً بل املأ وقته فيما فيه خير لدينه ودنياه.

37. Waktu kosong menyebabkan tersia-siakannya putra putri. Jangan biarkan waktu mereka kosong. Namun penuhilah waktu-waktu mereka dengan sesuatu yang padanya terdapat kebaikan untuk agama atau dunia mereka.

38- تعاون أنت وزوجك على تربيتهم فوحدا طريق التربية ووضحا الهدف وتشاورا في اتخاذ القرار.

38. Bekerjasama (bahu-membahulah) kamu dan istrimu untuk mentarbiyah mereka. Satukanlah cara/metode mentarbiyah, memiliki tujuan yang jelas, dan saling bermusyawarahlah dalam menentapkan peraturan-peraturan.

39- إياك أن تختلف أنت وزوجتك أمامهم فتقل الهيبة ويضعف التوجيه فيضيع الأولاد بينكما ويتشدد فكرهم .

39. Waspadalah jangan sampai (terlihat) kamu berbeda pendapat/cara/peraturan dengan istrimu di hadapan putra-putrimu. Untuk akan menjatuhkan wibawa, tidak dihargai lagi nasehat, sehingga anak-anak pun terbengkalai, dan pikiran mereka menjadi berat.

40- جنب أولادك بذاءة اللسان وعودهم على أحسن الألفاظ وجميل العبارات

40. Jauhkanlah putra-putrimu dari lisan yang keji dan kotor. Biasakanlah mereka dengan kata-kata yang terbaik, dan ungkapan-ungkapan yang indah.

41_صاحب أولادك وانزل إلى مستواهم لترفعهم إلى مستويات العقلاء.

41. berinteraksilah dengan putra-putrimu, tempatkanlah mereka sesuai dengan tingkatannya (usia dan kedewasaannya). Sehingga mereka bisa beranjak kepada tingkatan-tingkatan orang-orang yang berakal sehat dan kuat/jernih.

♻(Tammat. Alhamdulillah)

WhatsApp Miratsul Anbiya Indonesia

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 25, 2014 in Pendidikan

 

Negeri Para Komentator

Negeri para komentator

Membaca surat kabar pada hari-hari belakangan ini sering membuat hati merasa jengah.  Mayoritas berita isinya mengabarkan hal buruk yang terjadi di negeri ini. Mulai dari masalah KKN, rebutan kekuasaan, bencana alam, meningkatnya kemiskinan dan kriminalitas, hingga terorisme. Jarang sekali dimuat berita yang menyejukkan hati.

Banyak masalah yang harus dibenahi ini tentu membutuhkan masukan dan solusi dari berbagai pihak. Namun, masukan itu tentunya dari pihak yang memang ahlinya, dengan cara yang santun (baca: sesuai aturan syar’i), bukan dari orang yang hanya asal pandai berbicara dan menkritik. Bak jamur di musim hujan, sayangnya justru orang yang asal pandai menkritik inilah yang semakin hari semakin banyak di negeri ini. Mereka saling mengkritik, bahkan saling menghujat. Semua pendapat dikeluarkan tanpa memikirkan apakah pendapat itu bersifat membangun atau malah merusak. Yang penting bagaimana caranya supaya dirinya bisa disebut sebagai komentator yang ahli.

Menjadi komentator jelas tidak mempunyai beban yang terlalu berat jika dibandingkan dengan menjadi pelaku. Ketika menjadi komentator, seseorang bisa berbicara dengan lugas, tapi ketika menjadi pemikul amanah, tentu tidak mudah melaksanakan tugas-tugasnya. Tak banyak orang yang mau menjadi pelaku, saat sebelumnya dikenal sebagai komentator. Mereka khawatir tidak mampu membuat solusi seperti yang selama ini mereka suarakan.

Para komentator ini bukan hanya mereka yang muncul di televisi, tetapi juga ada hingga level rumah tangga. Kita sering melihat orangtua yang menasihati anaknya agar rajin belajar dan shalat tepat waktu, namun dianya sendiri mengabaikan suara adzan dan malah asyik menonton televisi dengan suara keras ketika anaknya sedang belajar di malam hari.

Ya, inilah suasana Indonesia sekarang, negeri para komentator, negeri yang memiliki banyak orang yang pintar berbicara tetapi jarang bertindak memberikan solusi yang nyata.

* * * * *

Pembaca yang dirahmati Allah ‘Azza Wa Jalla…

Melakukan koreksi dan kritik merupakan hal yang baik apabila itu didasari dengan ilmu dan dengan penyampaian yang tepat. Namun ketika kebanyakannya hanya mengkritik, tentu tidak ada buah yang bisa dipetik. Memang negeri kita saat ini sedang menghadapi berbagai permasalahan yang berat. Namun apakah dengan serapah kita dapat menyelesaikan masalah ?

Coba lihat kondisi sekarang. Semua pihak saling bersuara menuntut pemerintah harus bertanggung jawab atas semua masalah ini. Demonstrasi-demonstrasi pun digelar dengan agenda yang sama:

Pemerintah ini tidak tegas! Tidak becus dalam mengurusi negara! Ganti pemimpin sekarang juga!

Wah, ide mengganti pemerintah? Masyarakat kita sudah terlalu capek gonta-ganti pemerintah. Sengketa pilkada saja sudah merugikan semua pihak. Mengganti pemerintahan jelas tidak akan menyelesaikan masalah.

Lalu apa yang bisa kita lakukan bagi negeri ini?

Pembaca yang dirahmati Allah..

Kita bisa memperbaiki negeri ini dengan aksi nyata, melakukan apa yang kita bisa bagi masyarakat kita, sekecil apapun itu. Bagi para pegawai, jadilah pegawai yang jujur dan amanah, berusaha bekerja semaksimal mungkin. Bagi para pemuda, jadilah pemuda yang tekun dalam menuntut ilmu sehingga bisa membantu masyarakat sekitar dengan ilmu yang dimiliki. Bagi para orangtua, jadilah teladan, didiklah putra-putri anda menjadi putra-putri yang shalih dan shalihah.

Kita tidak perlu muluk-muluk. Minimal dengan mendukung dan melaksanakan program-program pemerintah yang ada (yang tidak bertentangan dengan agama), tidak mengacak-acak usaha pembangunan yang dilakukan pemerintah, itu saja sudah cukup memberikan satu langkah perbaikan bagi negeri ini. Kita harus turut andil membangun kepercayaan masyarakat kepada pemerintah, agar pemerintah dan masyarakat bisa kompak dan bekerja sama membangun negeri ini. Kesalahan dan keburukan pemerintah jangan dijadikan sebagai senjata untuk menjatuhkan kewibawaannya.

Padahal, yang paling mudah, sudahkah kita mendoakan pemerintah kita agar menjadi lebih baik? Wah, kita sendiri mungkin jarang mendoakan kebaikan untuk diri kita, apalagi untuk pemerintah. Atau selama ini kita hanya pernah mencaci maki dan mendoakan keburukan untuk pemerintah kita? Mulai hari ini, marilah kita mendoakan agar mereka dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan mendapat bimbingan Allah Ta’ala.

Yang terakhir dan yang terpenting, bahwa suatu negeri hanya bisa maju jika Allah “Azza Wa Jalla menurunkan berkah di atasnya. Dan berkah itu hanya bisa didapatkan apabila nilai-nilai di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah diamalakn dalam segala sisi kehidupan kita masing-masing. Jika nilai-nilai ketakwaan ini kita patri dalam diri-diri kita, niscaya negeri ini akan menjadi negeri yang adil dan makmur, yang selalu dinaungi barakah Allah ‘Azza Wa Jalla.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami anugerahkan kepada (kehidupan) mereka barakah dari langit dan bumi.” [QS. Al-A’raf:96].

Pembaca yang dirahmati Allah “Azza Wa Jalla…

Janganlah kita hanya sibuk berkomentar dan saling menjatuhkan. Marilah kita semua introspeksi diri-diri kita. Apa saja yang sudah kita berikan bagi lingkungan kita? Apa saja yang sudah kita sumbangkan bagi negeri kita? Dan apa yang sudah kita perjuangkan bagi agama kita? Apabila kita bisa introspeksi diri kita masing-masing, maka akan lahir semangat untuk saling berbagi memberikan yang terbaik bagi orang lain, yang dengannya negeri ini lambat laun akan semakin baik.

Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla memudahkan kita menjadikan negeri ini semakin baik di bawah naungan berkah-Nya. Wallahu A’lam Bish Showab.

 

Majalah Tashfiyah Edisi 11 vol 01 1433H-2011M

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 4, 2014 in Pendidikan